Chapter 1
Who am I?
Laki-laki itu perlahan membuka kelopak matanya yang tampak terasa berat. Dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Ruangan itu didominasi dengan warna gelap. Setiap sudutnya dihiasi ornamen mewah. Terdapat jendela persis menghadap matahari terbit yang sepertinya tidak pernah dibuka semenjak laki-laki itu terbaring disana. Selain itu, terdapat beberapa furnitur sisa-sisa zaman victoria yang menambah kesan klasik ruangan itu. Lukisan karya Edvard Munch tergantung tepat di depan jendela, membuatnya selalu terlihat samar-samar ketika matahari terbit. Lukisan itu berjudul “the scream”, sedikit menakutkan dan menambah kesan gelap ruangan itu. “Aku dimana?” laki-laki itu bergumam.
Dia mencoba menggerakkan jari-jarinya, tapi tidak ada perubahan. Tangannya, kakinya, badannya, semuanya tidak bisa ia gerakkan.
“Tubuhku?” dia mencicit “ada apa dengan tubuhku?”
Tok tok tok
Bunyi ketukan pintu terdengar dari luar, tidak terlalu keras namun cukup membuatnya sedikit mengalihkan perhatian.
Kreeettt....
Derit pintu terdengar bersamaan dengan kemunculan pria tua berbalut setelan jas lengkap. Rambutnya berwarna putih, jenis warna putih yang menandakan pria itu sudah tua. Terdapat kerutan-kerutan halus di sekitar matanya, garis rahangnya terlihat menonjol dan matanya cekung seperti kekurangan istirahat.
Pria tua itu berjalan mendekat ke arah laki-laki yang sedang terbaring itu. Dia mendorong overbed table berisi makanan.
“Tuan sudah sadar rupanya.” Dia mulai bersuara sambil tersenyum sekilas. Kerutan-kerutan di wajahnya terlihat semakin jelas. Kemudian, dia duduk disamping pria itu sambil menyiapkan makanan.
“Kau siapa?” tanya laki-laki itu
“Sekarang tuan harus makan.” Katanya melanjutkan tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu. Senyuman di wajahnya tak pernah berubah.
“Aku tanya kau siapa?” laki-laki itu bertanya lagi dengan nada geram. Tapi pria tua itu tak bergeming, dia terus sibuk menyuapi laki-laki itu.
“Oke, aku ganti pertanyaannya. Ada apa dengan tubuhku?” tanya pria itu dengan nada yang sedikit menahan amarahnya.
“Saya sudah selesei tuan.” Katanya sambil berlalu dan lagi-lagi menghiraukan laki-laki itu.
“Hey, apa kau tuli hah?” laki-laki itu berteriak. Dia sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Laki-laki tua itu kemudian berhenti melangkah dan berbalik mendengar tuannya berteriak.
“Maaf tuan, saya hanya diperkenankan untuk mengantarkan makanan untuk tuan saja.” Dia berkata dengan suara sedikit bergetar dengan wajah tertunduk.
“Tuan Bradt, saya pamit.” Ucapnya
“Bradt? Apakah itu namaku? Apakah aku tuanmu? Aku siapa? Kenapa aku disini?” laki-laki itu memberondong pria tua itu dengan berbagai pertanyaan.
“Enggg.... saya harus segera pergi dari sini tuan. Permisi.” Kata pria tua itu dengan wajah pucat penuh keringat.
“Prangg......” bunyi piring pecah terdengar setelah pria tua itu menabrakkan overbed ke kusen pintu. Dengan tangan bergetar pria tua mengambil pecahan piring yang jatuh dengan terburu-buru. Dia tidak peduli dengan tanganya yang berdarah akibat terkena pecahan piring. Yang ada dipikirannya hanya cepat-cepat pergi dari ruangan itu. Bukan, dari rumah itu. Setelah ini, nyawanya tidak akan selamat.
Laki-laki itu hanya bergeming melihat reaksi pria tua itu dan tidak berani bertanya lagi. Dia berpikir bahwa ada yang salah dengan semua ini. Dirinya, keberadaannya, kelumpuhannya, pria tua itu dan orang yang menempatkannya di ruangan ini.
“Aku harus mencari tahu.” Gumamnya penuh tekad
Comments
Post a Comment