Chapter II
Surat Kecil
Seperti kertas putih yang dibuang ke pulau tak bernama, sepertinya kata-kata itu sangat cocok untukku saat ini. Bagaimana tidak, sampai detik ini aku masih belum tau siapa diriku, dimana diriku, dan siapa orang-orang yang merawatku. Aku masih belum bisa memecahkan teka-teki itu. Dan yang lebih parahnya lagi, kakiku masih belum bisa ku gerakkan.
Tok tok tok....
Suara seseorang mengetuk pintu ruangan dan aku sudah tahu, setidaknya aku mengerti jadwal dia merawatku. Seorang laki-laki yang selalu memakai jas rapi plus tuksedo yang entah siapa namanya. Dia selalu diam, mungkin dia bisu, pikirku.
"Hey, kau datang lagi." Tanyaku padanya sesaat setelah dia berada di depanku. Namun, seperti biasa dia hanya diam tak bersuara sesikutpun.
"Bagaimana kabar Pa tua itu?" Tanyaku lagi namun dia masih diam dengan ekspresi tenang, setidaknya ekspresinya lebih tenang daripada saat pertama kali aku menanyakan hal itu untuk pertama kalinya.
"Cih, tenanglah aku tak akan bertanya lagi." Lanjutku dan ia meninggalkanku setelah selesei membersihkan lukaku
"Eh, kenapa kau tak memasang perban lagi dikepalaku?" Tanyaku lagi sesaat sebelum dia beranjak
"Luka anda sudah sembuh" Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya dan untuk pertama kalinya aku mendengar namanya. Pertama kali!
"Wow, tidak buruk mendengar kau bersuara" Komentarku
"Kenapa selama ini kau diam? Bukankah setidaknya kita bisa mengobrol? Atau mungkin kita bisa jadi teman yang baik." Tawarku, tapi dia kembali mengunci mulutnya
"Ahh, hey. Setidaknya beritahu namamu!" Pintaku setelah dia beranjak
"Bahkan bicara sedikitpun bisa membuatmu terbunuh" Ujarnya sambil berlalu meninggalkanku yang masih termangu.
Aku mencoba mencerna kata-kata yang ia lontarkan barusan. Terbunuh, terbunuh, terbunuh, aku terus merapalkannya. Aku mengingat-ngingat semua rentetan kejadian yang aku tau sesaat setelah aku sadar. Terbangun, ranjang, pria tua, lelaki tanpa suara, aku mencoba mengingat semuanya. Pria tua, ya dia menghilang sesaat setelah dia mengatakan sebuah nama, ya, mungkin itu namaku. Apa mungkin dia terbunuh? Mataku langsung membulat memikirkan kemungkinan gila itu. Aku harus berhati-hati, pikirku.
***
Keesokan harinya, aku terbangun dengan mendapati seorang perempuan, ya kali ini pelayan yang merawatku seorang perempuan.
Dia seorang perempuan yang tidak terlalu tinggi, memiliki badan yang kecil juga, kulit yang cerah dan yang tak bisa aku lupakan adalah matanya, matanya sangat berbinar. Mungkin itu hanya perasaanku saja, tapi aku yakin bisa melihatnya dengan jelas, dia seperti sedang memujaku. Tapi entahlah, aku tak yakin.
"Kemana laki-laki yang sebelumnya melayaniku?" Tanyaku padanya, tapi dia hanya diam, sama seperti orang-orang yang melayaniku sebelumnya. Tapi kali ini aku bersabar. Setidaknya aku sudah terbiasa menghadapi orang-orang ini.
"Kau orang ketiga yang merawatku" lanjutku, "setelah dua laki2 sebelumnya menghilang secara misterius" namun dia hanya diam, lagi-lagi
"Kau wanita pertama yang kutemui setelah aku terbangun" Aku melanjutkan dan seketika itu ujung mataku menangkap wajahnya yang sedikit merona dan sedikit menbuatku heran.
Setelah dia selesei mengelap badanku, akupun duduk termenung menatap jendela memikirkan keadaanku saat ini. Keadaanku masih seperti sama, hanya saja perban yang biasa melilit kepalaku sudah bisa dilepas. Arrggghhh....
Merasa tidak nyaman dengan posisu tidurku, aku mencoba posisi menjadi duduk. Sebuah surat kecil, itu yang kutemukan sesaat setelah aku menyibak selimutku. Mungkinkah wanita itu......? Gumamku menimang-nimang
Tanpa pikir panjang, akupun membuka surat itu dan tentu saja tanpa gerakan mencurigakan karena aku yakin kamar ini dipasang cctv. Dan akupun yakin mereka melenyapkan dua laki2 itu setelah apa yang mereka katakan.
Rakha Hadi Purnama, COE Techno Eve
Hanya nama itu yang tertera dalam surat itu. Apakah itu namaku? Apakah benar aku seorang COE? Lalu, siapa yang mengurungku disini? Orang tuaku? Atau ini hanya konspirasi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul
"Aku harus mengetahui semuanya!" Geramku
Comments
Post a Comment